الأحد، 23 ديسمبر، 2012

FUNGSI BAHASA


BAB 1                                                                                                                  PENDAHULUAN
1.1  LATAR  BELAKANG
Bahasa memiliki arti yang sangat dalam dunia politik. Bahasa menjadi media yang ampuh untuk menanamkan ideology, merebut atau mendapaykan serta mempertahankan kekuasaan, berbagai piranti kebahasaan dimanfaatkan untuk meraih simpati, menarik perhatian , dan membuat persepsi terhadap suatu masalah, mengendalikan pikiran, prilaku serta nilai yang dianut khalayak.
Salah satu media yang sering digunakan untuk merealisasikan pengontrolan ideologis dan kekuasaan adalah  iklan. Iklan merupakan suatu sistem tanda terorganisir  yang merefleksikan sikap, keyakinan, dan nilai-nilai tertentu. Setiap pesan dalam iklan memiliki dua tingkatan makna, yaitu makna yang dikemukakan secara eksplisit di permukaan dan makna yang dikemukakan secara emplisit di balik tampilan iklan (noviani dalam kusrianti,2004;1). Lapisan makna dalam iklan membuat adanya potensi untuk mengaburkan makna. Artinya, dalam sebuah iklan, makna ambigu berpotensi umtuk hadir. Walaupun demikian ambugu ini menjadi senjata dan kiat bagi pengiklan untuk mengkamuflasekan realita yang sesungguhnya.
Misalnya dalam kampanye politik. Begitu banyak janji –janji yang seakan-akan bermakna manis. Namun bila di telusuri lebih jauh lagi, apa yang secara tersurat dikemukakan belum tentu bermakna sama.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         


                                                                                                                                                                                                                                                           
1.2  RUMUSAN  MASALAH
1.      Bagaimanap perwujudan bahasa kampanye politik CW kendari.
2.      Tindak tutur apa saja yang terdapat dalam bahsa kampanye polotik CW kendari.
3.      Mengetahui daya pragmatic yang terdapat dalam bahasa kampanye polotik CW kendari.

1.3  TUJUAN PENELITIAN
Tujuan  penelitian ini:
1.       Agar dapat mengungkap makna bahasa kampanye politik  yang ditulis  di media    luar ruang.
2.      Agar dapat mengetahui bahwa bahsa kampanye walikota kendari mengandung beberapa day pragmatik yang berupa penyindiran, pendekatan diri, rendah hati, dan pemameran diri.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini di temukan bahwa :
1.      kampanye politik calon walikota kendari menggunakan beberapa kode
2.      mengetahui bahwa calon walikota kendari lebih memilih untuk menggunakan tindak tutur langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur tidak langsung literal.

1.5  PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian terdahulu yang berjudul. Daya pragmatic bahsa kampanye politik calon walikota kendari ini dilakukan karena sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan, belum ada satupun yang mengkaji masalah ini.


1.6  TEORI TERKAIT
Teori yang terkait yaitu
1.      Penelitian sulistianingsih (2009) yang membahas Bahasa Indonesia dalam Wacana Propoganda Politik Kampanye Pemilu 2009 (Satu Kajian Sosioppragmatik).
2.      Penelitian sultan (2009) yang membahas Bahasa Pencitraan dalam Wacana Iklan Kampanye CAlon Anggota Legislatif 2009.
1.7. METODOLOGI  PENELITIAN
             Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan data yang terbesar dalam bentuk tulisan pada spanduk, billboard, baliho kampanye politik pemilihan CW kendari.dengan demikian data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak, teknik simak bebas libat cakap yang dilanjutkan dengan teknik foto.
            Setelah dikumpulkan dan diklasifikasikan, data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan pragmatic dan padan referensial (sudaryanto,1989).









BAB II                                                                                                            PEMBAHASAN
2.1. PERWUJUDAN BAHASA KAMPANYE POLITIK
Bahasa kampanye politik dapat diwujudkan melalui penggunaan berbagai macam kode. Kode dibagi atas dua yaitu
1.      Kode linguistik
2.      Kode non linguistik
Kode lingistik yaitu lambing atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, sedangkan kode non linguistik yaitu sistem bahasa dalam suatu masyarakat , yang merupakan simbol-simbol non bunyi yang diwujudkan di antaranya berupa gambar.
dalam kampanye pollitik melalui media luar ,kedua kode ini sering di gunakan,  kedua kode ini umumnya bersinergi untuk menyampaikan suatu pesan sehingga target yang dimaksud dapat tercapai.dalam kampanye politik targetnya adalah CW dipilih. Oleh karena itu, para CW akan mendesain kode-koe yang sangat menarik.
Contoh bahasa kode linguistik :
Harapan itu tanpa batas, pasangan walikota dan wakil walikota selanjutnya untuk kota kendari. Insya allah : membangun kota kendari tanpa air mata dan penggusuran paksa, menempatkan harkat dan martabat pedagang kaki lima sebagai bagian pilar-pilar ekonomi. Bukan lanjutkan ….!!! Tetapi selanjutnya.
Contoh bahsa kode non linguistik:
pada  CW TOREWA di pajang di alun-alun kota kendari , dekat pasar mandonga . baliho ini sengaja dipajang di wilayah ini untuk meraih simpatik masyarakat pendatang yang berasal dari makassar yang menjadi basis dari CW tono herbiansyah. Lebih-lebih lagi, baliho torewa menggunakan bahasa Makassar dengan tujuan untuk mengakrabkan diri.
2.2  TINDAK TUTUR BAHASA KAMPANYE POLITIK
Dalam menganalisis tindak tutur sebagai pisau bedah pragmatic, wijana (1996: 4) membagi tindak tutur menjadi beberapa bagian ,yaitu
1.      Tindak tutur langsung
2.      Tindak tutur tidak langsung
3.      Tindak tutur literal
4.      Tindak tutur tidak literal

Tindak tuturlangsung adalah tindak tutur yang sesuai dengan modus                                           kalimat yang disampaikan. Berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimatdeklaratif, interogatif dan kalimat imperatif. Kalimat deklaratif digunakan untuk memberitahukan sesuatu informasi, kalimat Tanya untuk menanyakan sesuatu ,dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah ,ajakan, permintaan atau permohonan.
Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutuir yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengaturanya . maksud memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan menanyakan sesuatu dengan kalimat Tanya.
Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang tidak diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengaturanya, tetapi makna kata-kata yang menyusunya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
2.3. DAYA PRAGMATIK BAHAS KAMPANYE POLITIK
di balik kat-kata yang tersusun rapi antara bahasa kampanye politik terdapat beberapa makna terselubung atauyang disebut dengan makna pragmatik atau daya pragmatik. Daya pragmatik bahasa kampanye politik itu berupa sindiran, pengakraban diri, rendah hati, dan memamerkan diri.
1.      Sindiran
Menyindir adalah penggunaan bahasa yang berupa sindiran oleh salah seorang CW dari partai X kepada CW lainya dari partai penguasa yang berposisi sebagai incumbent.penggunaan bahasa yang berupa sindiran ini berfungsi untuk menjatuhkan pamor atau citra diri lawan politiknya.
2.      Mengakrabkan Diri
Mengakrabkan diri disini adalah pendekatan CW secara personal kepada masyarakat pemilih dengan menggunakan media bahasa, pendekatan personal ini tentu dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sering digunakan dalam bahasa keseharian masyarakat pemilihnya.
3.      Rendah Hati
Rendah hati yang dimaksud di sini adalah penggunaan bahasa yang memuat kata, frasa, atau klausa tidak memaksakan kehendak. Karena susunan bentuk klausanya terdiri dari kata pengandaian”jika”atau “kalau”. Sehingg kata pengandaian ini mengandung makna pilihan yang sifatnya tidak menekan atau imposif.
4.      Memamerkan Diri
Memamerkan diri adalah penggunaan bahasa kampanye politik yang memuat berbagai prestasi atau kesuksesan dalam memimpin kota kendari. Penggunaa bahasa ini dilakukan untuk meraih simpatik dan dukungan masyarakat pemilihnya.


BAB III                                                                                                                        PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu:
1.      Bahasa kampanye politik CW kendari ini menggunakan kode linguistik dan non linguistik.
2.      Tindak tutur yang digunakan berupa tindak tutur langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur tidak langsungliteral.

3.2. SARAN
Disadari bahwa laporan penelitian ini masih banyak kekurangn dan kelemahan, disebabakan karena kurangnya pemahamn dalam menganalisa suatu laporan penelitian, maka diharapkan kritik dan saran baik dari rekan-rekan mahasiswa maupun dosen yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق