الأحد، 23 ديسمبر 2012

FUNGSI BAHASA


BAB 1                                                                                                                  PENDAHULUAN
1.1  LATAR  BELAKANG
Bahasa memiliki arti yang sangat dalam dunia politik. Bahasa menjadi media yang ampuh untuk menanamkan ideology, merebut atau mendapaykan serta mempertahankan kekuasaan, berbagai piranti kebahasaan dimanfaatkan untuk meraih simpati, menarik perhatian , dan membuat persepsi terhadap suatu masalah, mengendalikan pikiran, prilaku serta nilai yang dianut khalayak.
Salah satu media yang sering digunakan untuk merealisasikan pengontrolan ideologis dan kekuasaan adalah  iklan. Iklan merupakan suatu sistem tanda terorganisir  yang merefleksikan sikap, keyakinan, dan nilai-nilai tertentu. Setiap pesan dalam iklan memiliki dua tingkatan makna, yaitu makna yang dikemukakan secara eksplisit di permukaan dan makna yang dikemukakan secara emplisit di balik tampilan iklan (noviani dalam kusrianti,2004;1). Lapisan makna dalam iklan membuat adanya potensi untuk mengaburkan makna. Artinya, dalam sebuah iklan, makna ambigu berpotensi umtuk hadir. Walaupun demikian ambugu ini menjadi senjata dan kiat bagi pengiklan untuk mengkamuflasekan realita yang sesungguhnya.
Misalnya dalam kampanye politik. Begitu banyak janji –janji yang seakan-akan bermakna manis. Namun bila di telusuri lebih jauh lagi, apa yang secara tersurat dikemukakan belum tentu bermakna sama.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         


                                                                                                                                                                                                                                                           
1.2  RUMUSAN  MASALAH
1.      Bagaimanap perwujudan bahasa kampanye politik CW kendari.
2.      Tindak tutur apa saja yang terdapat dalam bahsa kampanye polotik CW kendari.
3.      Mengetahui daya pragmatic yang terdapat dalam bahasa kampanye polotik CW kendari.

1.3  TUJUAN PENELITIAN
Tujuan  penelitian ini:
1.       Agar dapat mengungkap makna bahasa kampanye politik  yang ditulis  di media    luar ruang.
2.      Agar dapat mengetahui bahwa bahsa kampanye walikota kendari mengandung beberapa day pragmatik yang berupa penyindiran, pendekatan diri, rendah hati, dan pemameran diri.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini di temukan bahwa :
1.      kampanye politik calon walikota kendari menggunakan beberapa kode
2.      mengetahui bahwa calon walikota kendari lebih memilih untuk menggunakan tindak tutur langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur tidak langsung literal.

1.5  PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian terdahulu yang berjudul. Daya pragmatic bahsa kampanye politik calon walikota kendari ini dilakukan karena sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan, belum ada satupun yang mengkaji masalah ini.


1.6  TEORI TERKAIT
Teori yang terkait yaitu
1.      Penelitian sulistianingsih (2009) yang membahas Bahasa Indonesia dalam Wacana Propoganda Politik Kampanye Pemilu 2009 (Satu Kajian Sosioppragmatik).
2.      Penelitian sultan (2009) yang membahas Bahasa Pencitraan dalam Wacana Iklan Kampanye CAlon Anggota Legislatif 2009.
1.7. METODOLOGI  PENELITIAN
             Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan data yang terbesar dalam bentuk tulisan pada spanduk, billboard, baliho kampanye politik pemilihan CW kendari.dengan demikian data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak, teknik simak bebas libat cakap yang dilanjutkan dengan teknik foto.
            Setelah dikumpulkan dan diklasifikasikan, data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan pragmatic dan padan referensial (sudaryanto,1989).









BAB II                                                                                                            PEMBAHASAN
2.1. PERWUJUDAN BAHASA KAMPANYE POLITIK
Bahasa kampanye politik dapat diwujudkan melalui penggunaan berbagai macam kode. Kode dibagi atas dua yaitu
1.      Kode linguistik
2.      Kode non linguistik
Kode lingistik yaitu lambing atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, sedangkan kode non linguistik yaitu sistem bahasa dalam suatu masyarakat , yang merupakan simbol-simbol non bunyi yang diwujudkan di antaranya berupa gambar.
dalam kampanye pollitik melalui media luar ,kedua kode ini sering di gunakan,  kedua kode ini umumnya bersinergi untuk menyampaikan suatu pesan sehingga target yang dimaksud dapat tercapai.dalam kampanye politik targetnya adalah CW dipilih. Oleh karena itu, para CW akan mendesain kode-koe yang sangat menarik.
Contoh bahasa kode linguistik :
Harapan itu tanpa batas, pasangan walikota dan wakil walikota selanjutnya untuk kota kendari. Insya allah : membangun kota kendari tanpa air mata dan penggusuran paksa, menempatkan harkat dan martabat pedagang kaki lima sebagai bagian pilar-pilar ekonomi. Bukan lanjutkan ….!!! Tetapi selanjutnya.
Contoh bahsa kode non linguistik:
pada  CW TOREWA di pajang di alun-alun kota kendari , dekat pasar mandonga . baliho ini sengaja dipajang di wilayah ini untuk meraih simpatik masyarakat pendatang yang berasal dari makassar yang menjadi basis dari CW tono herbiansyah. Lebih-lebih lagi, baliho torewa menggunakan bahasa Makassar dengan tujuan untuk mengakrabkan diri.
2.2  TINDAK TUTUR BAHASA KAMPANYE POLITIK
Dalam menganalisis tindak tutur sebagai pisau bedah pragmatic, wijana (1996: 4) membagi tindak tutur menjadi beberapa bagian ,yaitu
1.      Tindak tutur langsung
2.      Tindak tutur tidak langsung
3.      Tindak tutur literal
4.      Tindak tutur tidak literal

Tindak tuturlangsung adalah tindak tutur yang sesuai dengan modus                                           kalimat yang disampaikan. Berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimatdeklaratif, interogatif dan kalimat imperatif. Kalimat deklaratif digunakan untuk memberitahukan sesuatu informasi, kalimat Tanya untuk menanyakan sesuatu ,dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah ,ajakan, permintaan atau permohonan.
Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutuir yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengaturanya . maksud memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, dan menanyakan sesuatu dengan kalimat Tanya.
Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang tidak diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengaturanya, tetapi makna kata-kata yang menyusunya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur.
2.3. DAYA PRAGMATIK BAHAS KAMPANYE POLITIK
di balik kat-kata yang tersusun rapi antara bahasa kampanye politik terdapat beberapa makna terselubung atauyang disebut dengan makna pragmatik atau daya pragmatik. Daya pragmatik bahasa kampanye politik itu berupa sindiran, pengakraban diri, rendah hati, dan memamerkan diri.
1.      Sindiran
Menyindir adalah penggunaan bahasa yang berupa sindiran oleh salah seorang CW dari partai X kepada CW lainya dari partai penguasa yang berposisi sebagai incumbent.penggunaan bahasa yang berupa sindiran ini berfungsi untuk menjatuhkan pamor atau citra diri lawan politiknya.
2.      Mengakrabkan Diri
Mengakrabkan diri disini adalah pendekatan CW secara personal kepada masyarakat pemilih dengan menggunakan media bahasa, pendekatan personal ini tentu dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sering digunakan dalam bahasa keseharian masyarakat pemilihnya.
3.      Rendah Hati
Rendah hati yang dimaksud di sini adalah penggunaan bahasa yang memuat kata, frasa, atau klausa tidak memaksakan kehendak. Karena susunan bentuk klausanya terdiri dari kata pengandaian”jika”atau “kalau”. Sehingg kata pengandaian ini mengandung makna pilihan yang sifatnya tidak menekan atau imposif.
4.      Memamerkan Diri
Memamerkan diri adalah penggunaan bahasa kampanye politik yang memuat berbagai prestasi atau kesuksesan dalam memimpin kota kendari. Penggunaa bahasa ini dilakukan untuk meraih simpatik dan dukungan masyarakat pemilihnya.


BAB III                                                                                                                        PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu:
1.      Bahasa kampanye politik CW kendari ini menggunakan kode linguistik dan non linguistik.
2.      Tindak tutur yang digunakan berupa tindak tutur langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur tidak langsungliteral.

3.2. SARAN
Disadari bahwa laporan penelitian ini masih banyak kekurangn dan kelemahan, disebabakan karena kurangnya pemahamn dalam menganalisa suatu laporan penelitian, maka diharapkan kritik dan saran baik dari rekan-rekan mahasiswa maupun dosen yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.

EUFEMISME DALAM BAHASA BUGIS


BAHASA INDONESIA

TENTANG

EUFEMIS
ME DALAM BAHASA BUGIS






OLEH        : KELOMPOK III
Ø MUTAHARA
Ø DOYOK
Ø HASIM
Ø AMIRUDDIN








KATA PENGANTAR





            ALHAMDULILLAHI ROBBIL ALAMIN..............
            Puji syukur atas rahmat Allah swt. yang telah memberi kesehatan serta kekuatan, sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini dengan semaksimal mungkin.
Makalah ini, yang  insya Allah banyak membahas tentang eufemisme dalam bahasa bungis karna sesuai dengan judul makalahnya yaitu Eufemisme Dalam Bahasa Bugis. Didalamnya berisi tentang mengapa kita perlu mempelajari eufemisme dalam bahasa bugis yaitu supaya kita bisa lebih menghormati orang lain dan menghargai orang lain dengan menggunakan kata-kata berbentuk bahasa yang sifatnya eufemisme. Sebab eufemisme merupakan penghalusan bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain walaupun mungkin kata- kata yang diucapkan sedikit menyakitkan tapi karna dia menggunakan bahasa eufemisme sehingga orang tersebut menjadi lebih tenang.

Saya berharap dengan makalah ini, bisa menambah wawasan kita tentang  EUFEMISME dalam bernahasa daerah khususnya bahasa bugis. Semoga makalah ini bisa bermanfaat khususnya kepada sang penyusun makalah dan para pembaca.
Kritik serta saran yang selalu kami harapkan, demi kesempurnaan makalah kami. Terima kasih.



i

DAFTAR ISI               


KATA PENGANTAR...................................................................                   i
DAFTAR ISI.............................................................................                     ii
BAB I
PENDAHULUAN...................................................................                        1
Latar Belakang.....................................................................                        1
Tujuan.................................................................................                        1
Rumusan Masalah................................................................                       1
BAB I
PEMBAHASAN
Pengertian Bahasa...............................................................                        2
Bahasa Bugis........................................................................                        2
Pengertian Eufemisme.........................................................                        2
Eufemisme Dalam Bahasa Bugis........................................                   3
Fungsi Eufemisme Dalam Bahasa Bugis.................................                        9
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................                        10
Saran...................................................................................                       11
ii

BAB I

PENDAHULUAN



Latar belakang
Eufemisme merupakan penghalusan bahasa, sehingga bahasa yang kita keluarkan tidak membuat orang yang mendengar  merasa tersinggung atau marah dengan kata-kata yang kita ucapkan.Ada juga yang berpendapat bahwa eufemisme merupakan sopan santun yang menipu,  Sehingga orang tidak merasa marah karna ia tidak tau kalau ia menggunakan bahasa eufemisme.
Tujuan
1.     Agar kita bisa mengetahui bahwa setiap bahasa daerah ada bahasa tertentu yang  diharuskan kita  menggunakan bahasa eufemisme.
2.     Bisa menjadi bekal apabila kita turun ke kampung halaman.
3.     Supaya kita tidak kenah teguran di saat kita menggunakan bahasa yang seharusnya bahasa eufemisme malah  kita menggunakan bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan,atau membuat orang marah atau tersinggung.
Rumusan Masalah

1.     Apa yang dimaksud dengan eufemisme?
2.     Mengapa penting bagi kita mempelajari eufemisme?
3.     Mengapa bahasa eufemisme dipelajari juga di dalam bahasa bugis?


1

BAB II

PEMBAHASAN

1.1.                    PENGERTIAN BAHASA
Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia dapat berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya melalui perantaraan bahasa. Oleh karena itu, bahasa menjadi pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Melalui bahasa, manusia dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya, baik secara lisan maupun tertulis kepada orang lain.
1.2.                    BAHASA BUGIS

Bahasa Bugis telah menjadi alat komunikasi dalam kehidupan masyarakat penuturnya. Masyarakat penutur bahasa Bugis menggunakan bahasanya untuk berbagai tujuan. Dalam konteks penggunaan bahasa Bugis di setiap daerah, tidak tertutup kemungkinan terdapat pemunculan bentuk kata yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Perbedaan makna sering menimbulkan perbedaan persepsi dan interpretasi antara pembicara dengan pendengar, antara penulis dengan pembaca yang berbeda dialek atau daerah asalnya. Dalam hal ini, kesalahan persepsi dan interpretasi terhadap makna kata karena kata tersebut kemungkinan memiliki makna lebih dari satu. Penyebab lain adalah penggunaan eufemisme, yaitu penggunaan kata-kata halus sebagai pengganti kata-kata yang dianggap memiliki makna kasar.

1.3.                    PENGERTIAN EUFEMISME

2
eufemisme atau penghalusan bahasa adalah salah satu bentuk pemakaian bahasa dalam masyarakat yang sudah semakin lancar penggunaanya. Mungkin karena tuntutan zaman yang mengharuskan atau karena pola pikir masyarakat pemakai bahasa yang selalu berubah.
Eufemisme merupakan acuan yang berupa ungkapan yang tidak menyinggung perasaan atau ungkapan halus untuk menggantikan acuan yang dirasakan menghina atau tidak menyenangkan. Intinya, mempergunakan kata-kata dengan arti baik atau dengan tujuan baik.
 Eufemisme  juga ada yang mengartikan sebagai ungkapan yang bersifat tidak berterus terang.
Eufemisme atau juga pseudo eufemisme menjadi motif dorongan di belakang perkembangan peyorasi. Eufemisme berlatar belakang sikap manusiawi karena dia berusaha menghindar agar tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Seandainya tidak ada eufemisme mungkin akan yerjadi depresi makna atau perendahan.
1.4.                    EUFEMISME DALAM BAHASA BUGIS
Ungkapan-ungkapan yang bermakna eufemisme yang ditemukan dalam bahasa Bugis Dialek Palakka, yakni mabbura, juana, makecca-kecca jari, massimang, reweq ripammasena, masempo, matubeng, wija, mallalengni, makkurai betta, attaung-taugeng, makelu-kelu, massappa dalle, macca pinru ada, mallise, rilakke-lakkei, jambang, dan  palecce.


3
Makna setiap ungkapan tersebut diungkapkan sebagai berikut :
v Mabbura (makan) merupakan bentuk eufemisme dari manre. Mabbura berarti mengobati rasa lapar. Ungkapan mabbura digunakan untuk memanggil orang lain makan. Ungkapan ini memiliki makna yang sifatnya tidak langsung.
v Juana (budak) merupakan bentuk eufemisme dari atanna. Kata atanna digunakan untuk menghargai mitra tutur atau orang lain yang dibicarakan. Atanna berarti budaknya,  yang secara sosial menempatkan yang bersangkutan dalam status sosial
v Makecca-kecca jari  (pencuri) adalah merupakan eufemisme panga, parennau. Makecca-kecca jari bermakna bertangan nakal. Ungkapan tersebut lebih halus dibandingkan dengan pencuri. Ungkapan makecca jari juga digunakan masyarakat karena mereka meyakini bahwa jika pencuri disebut parennau mereka akan melakukan aksinya kembali.
v Massimang (pamit) merupakan eufemisme dari kata lokkana. Kata massimang dipandang masyarakat lebih halus maknanya jika ingin meminta izin pulang kepada tuan rumah. Kata tersebut biasanya digunakan untuk pamit pada tuan rumah yang berstatus bangsawan. Dengan menggunakan kata tersebut, tuan rumah merasa sangat dihargai oleh tamu yang paling rendah.
v Reweq ripammasena (meninggal dunia) merupakan eufemisme dari mate. Reweq ripammasena diucapkan untuk menjaga perasaan keluarga dari orang yang meninggal dunia.



4
Secara harfiah, ungkapan reweq ripammasena puang allah taala berarti kembali ke sisi Allah Swt. Makna kembali dalam ungkapan tersebut  bertujuan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Dengan mengatakan kembali ke sisi Allah, makna yang terkandung makna kematian tersebut semata-mata kehendak Allah Swt.
v Masempo (tidak ada) merupakan eufemisme dari degaga. Kata masempo digunakan ketika seseorang meminta sesuatu barang atau ingin membeli sesuatu, namun yang dimintai/penjual tidak memiliki barang dimaksud. Masempo secara harfiah berarti laris. Dengan menggunakan ungkapan tersebut, orang yang meminta/pembeli tidak merasa kecewa karena keinginannya tak terpenuhi.
v Matubeng (malas) merupakan eufemisme dari makuttu. Eufemisme ini digunakan untuk menjaga perasaan orang yang dianggap malas. Matubeng memiliki makna yang lebih halus dibanding dengan makuttu.
v Wija (anak) merupakan eufemisme dari anatta. Dengan menggunakan kata wija, orang tua biasanya merasa dihargai. Wija memiliki makna keturunan. Kata-kata tersebut merupakan ungkapan yang biasanya diucapkan sebagai tanda keakraban. Masyarakat Bugis ketika berjumpa dengan sahabat atau kawan biasanya akan saling bertanya tentang jumlah keturunan dengan menggunakan kata wija. Bentuk ungkapan yang lazim digunakan adalah siagani wija (sudah berapa keturunan)? Kata wija memiliki makna yang halus sebagai bentuk penghargaan kepada orang tua yang telah memiliki keturunan.

6
v Mallalengni (sekarat) merupakan eufemisme dari madangni. Eufemisme ini digunakan untuk menjaga perasaan keluarga orang yang sedang sekarat. Secara harfiah, mallalengni berarti berjalan, berjalan menuju kematian. Penggunaan kata mallaleng memiliki ketidaklangsungan makna.
v Makkunrai betta (pelacur) merupakan eufemisme dari kata bendarang. Kedua kata memiliki makna yang sama, namun makkunrai betta memiliki ketidaklangsungan makna. Arti secara harfiah makkunrai betta adalah wanita nakal. Dalam masyarakat adalah perilaku yang diwujudkan dalam beragam tindakan, termasuk wanita yang menjadi pelacur. Bendarang memiliki makna yang spesifik kepada pelacur.
v Attaung-taugeng (orang meninggal) merupakan eufemisme dari tau mate. Menurut pandangan masyarakat Bugis, attaung-taugeng digunakan sebagai ungkapan untuk mengurangi kesedihan keluarga yang sedang berduka.Secara harfiah, kata attaung-taungeng berarti tempat orang meninggal.
v Mallise (hamil) merupakan eufemisme dari mattampu. Kata mallisek memiliki makna yang lebih halus. Ungkapan tersebut digunakan untuk menjaga perasaan wanita yang sedang hamil. Mallise secara harfiah berarti berisi.
v Makelu-kelu (sakit) merupakan eufemisme dari malasa. Meskipun kedua kata memiliki makna yang sama, namun makelu-kelu memiliki makna keadaan sakit yang tidak terlalu parah. Sebaliknya, malasa mengesankan makna keadaan sakit yang parah. Makelu-kelu merupakan bentuk ungkapan yang digunakan untuk membesarkan hati dan memberikan semangat bagi orang yang

7
 sedang sakit. Dengan menggunakan ungkapan tersebut, kesan yang muncul bahwa penyakit yang diderita si sakit tidaklah parah.
v Massappa dalle (menjual) merupakan eufemisme dari mabbalu. Massappa dalle digunakan untuk memberikan semangat dalam melakukan pekerjaan sebagai pedagang. Secara harfiah massappa dalle berarti mencari rezeki. Dengan menggunakan ungkapan tersebut, yang bersangkutan akan memiliki motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Ungkapan tersebut juga lazim digunakan untuk memotivasi anggota keluarga, utamanya anak untuk bekerja atau menuntut ilmu.
v Macca pinru ada (piawai bercerita, piawai merangkai cerita) merupakan eufemisme dari macca mabbicara. Eufemisme ini digunakan untuk menunjukkan kehebatan seseorang yang piawai merangkai cerita. Ungkapan tersebut memiliki makna yang lebih halus dibanding macca mabbicara. Macca mabbicara mengesankan seolah-olah yang bersangkutan hanya sekadar bersilat lidah. Begitu pula, isi pembicaraan yang sekadar sebagai gurauan, bukan pembicaraan berisi seperti yang terkandung dalam macca pinru ada.
v Rilakke-lakkei (dibicarakan) merupakan eufemisme dari ribicarai. Ungkapan rilakke-lakkei digunakan untuk pembicaraan yang berkaitan dengan pernikahan. Ungkapan tersebut digunakan untuk menyembunyikan harapan yang sebenarnya, yakni harat meminang seorang gadis.
v Jambang (buang air besar) merupakan eufemisme dari tai. Penggunaan kata tai akan menimbulkan rasa jijik pada orang yang terlibat pembicaraan. Tai secara harfiah berarti berak. Tai secara

8
 langsung memberikan asosiasi terhadap kotoran yang dihasilkan manusia. Dengan menggunakan ungkapan jambang, asosiasi pendengar tidak langsung terarah pada hal yang kotor.
v Palecceki (tambah) merupakan eufemisme dari attambako.  Kata ini digunakan ketika mempersilakan tamu menambah makanan dalam jamuan makan. Secara harfiah, palecceki berarti memindahkan makanan. Penggunaan kata attambako dihindari dalam jamuan makan masyarakat Bugis karena hal tersebut dapat menimbulkan rasa malu bagi tamu. Attambako mengisyaratkan kesan rakus, makan banyak. Padahal, dalam masyarakat Bugis kesan tersebut merupakan aib yang harus dihindari.
1.5.                    FUNGSI EUFEMISME DALAM BAHASA BUGIS

1)    menghormati orang lain, dan
berfungsi untuk menghormati orang lain, yakni: mabbura (makan), wija (keturunan), massappa dalle (mencari rezeki/berjualan), macca pinru ada (pandai merangkai kata), jambang (buang air besar), palecceki (pindahkan/tambah), dan rilakke-lakkei (dibicarakan).

2)    menjaga perasaan orang lain.
Digunakan untuk menjaga perasaan orang lain, yakni: juana (budak), makecca-kecca jari (pencuri), massimang (pamit), matubeng (malas), mallaleng (sekarat), makkunrai betta (pelacur), mallise (hamil), attaung-taungeng (tempat orang meninggal),  dan makelu-kelu (sakit).



9

BAB III

PENUTUP



A.   KESIMPULAN
Berdasarkan bidang pemakaian, eufemisme dalam bahasa Bugis digunakan dalam hal yang berkaitan dengan musibah, utamanya kematian. Selain itu, eufemisme juga digunakan untuk merujuk pada perilaku menyimpang anggota masyarakat, hal menjijikkan, dan menunjukkan perilaku kesopanan.
Penggunaan eufemisme dalam bahasa Bugis menunjukkan keluhuran budi masyarakat Bugis. Penutur bahasa Bugis menggunakan eufemisme sebagai bentuk penghormatan terhadap mitra tutur atau objek pembicaraan. Pembicaraan dengan penutur yang memiliki derajat kebangsawanan atau usia yang lebih tua mendorong pembicara untuk menggunakan bahasa yang memiliki makna yang lebih halus. Menurut Pelras (2006:196), dalam masyarakat Bugis ungkapan penghormatan ditentukan derajat kebangsawanan dan usia. Eufemisme yang dipengaruhi derajat kebangsawanan terlihat pada ungkapan massimang (pamit). Pada golongan masyarakat yang memiliki status rakyat biasa, lazim digunakan lokka/jokka (pergi) lesu (pulang).
tujuan awal eufemisme adalah untuk bersopan santun. eufemisme adalah sopan santun yang menipu.
Hal ini tidak bisa dipungkiri karena banyak orang-orang tertentu yang pandai menggunakan bahasa, berlindung di balik eufemisme ini.

10
B.  SARAN
Semoga dengan kita mempelajari eufemisme dalam bahasa bungis, kita jadi tahu kalau bukan hanya bahasa persatuan yang memiliki eufemisme dalam berbahasa, tapi bahasa daerah-pun banyak menggunakan  kata-katanya yang bersifat eufemiame.
Jangan sampai kita sebagai penduduk Indonesia yang berbagai macam suku tidak dapat mengetahui kalau ada bahasa daerah yang sifatnya eufemisme  sehingga akan berakibat buruk nantinya,maka dari itu pentingnya bagi kita untuk mempelajari eufemisme dalam bahasa daerah masing-masing.























11